Cerpen, Fokuscirebon.com - Hembusan angin terus menampar sekujur tubuhku, dari atas kepala terik matahari menerjang tempurung kepala dan menembus sampai ke ubun – ubun. Asap polutan terus berterbangan, semakin menyebar ke seluruh sudut, mengisi ruang – ruang kosong yang kini tak lagi bertanah tapi bertuan. Ya, memang aku sudah terlalu terbiasa dengan kondisi seperti ini, dimana kerinduan yang kunantikan terkadang membuatku tak jarang merasa resah. Sulit bagiku untuk mencari tempat yang bisa menyejukan tubuh dan hatiku. “Tak, seindah dulu!” kata – kata itu yang sering terlontar dari mulutku yang bau. Entah mengapa, mungkin kata - kata itu yang selalu membuatku resah ketika sesuatu yang kunantikan sudah berada dihadapanku. “ini kenyataannya, tapi kamu jangan terlalu larut, A Emi.” Ucap Juli salah satu orang yang bisa mengerti isi persaanku. Tapi, aku sendiri tau, ucapan itu hanya ingin menghibur, berniat memecahkan suasana. Aku yakin, sebenarnya Ia pun merasakan hal yang sama.
Aku bersama kekasihku berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Ingin rasanya genggaman tangannya itu terus mencengkram tanganku, dimana lembut telapak tangannya terkadang membuatku tenang, nyaman, bahkan sampai membuatku lupa akan dunia ini. Ya, Ia memang motivator terbaik selain keluargaku. Suatu kebanggan tersendiri bagiku bisa berkenalan bahkan menjadi bagian dari kisah hidupnya. Tapi, selain Ia masih ada satu hal yang ku rindukan! Setibanya ditempat kos, mungkin karna rasa lelah dan kantuk yang tak bisa lagi aku lawan, sekalipun dengan menghunuskan pedang. Seketika, aku langusng membaringkan badan seraya memejamkan mataku, dengan harapan aku bisa bertemu rinduku dialam mimpi. Sekejap, suara bising kembali terdengar ditelinga, memaksa badanku untuk segera terbangun. Malas, ingin rasanya aku tidur kembali. Menikmati rasa kantuk yang terus memaksaku untuk segera memejamkan mata, agar aku bisa mencoba kembali mencari rinduku dialam bawah sadar!
***
Sepulangnya beraktifitas, kita berdua selalu janjian untuk ketemu disalah satu halte, yang memang letaknya tak jauh dari tempat kita berdua. Ini merupakan komitmen yang sudah kita sepakati, agar tidak menggunakan kendaraan pribadi. Memanfaatkan fasilitas umum, yang walaupun dari dulu sampai sekarang tetap seadanya dan apa adanya! Panas terik matahri terasa menyengat sekujur badanku, keringat berjatuhan membasahi pakaianku, untung ada sapu tangan ajaib pemberian Juli, bisa sedikit memberi bantuan untuk menyerap keringatku. Udara siang ini terasa berbeda, gerah melanda, hawa – hawa hujan akan segera turun. ‘Akhirnya!” tuturku spontan. Dari kejauhan langkah kaki Juli terliahat begitu tergesa – gesa, seperti ada suatu hal yang ingin Ia sampaikan atau ada permasalahan lainnya. “A emi, ada kabar gembira. Kalender yang Nda tunjukin kemarin, kayaknya benar, A!” Pacarku menyampaikannya begitu semeringah, pancaran sinar matanya menunjukan ketulusan ingin benar – benar membuatku senang dan terhibur. Akan tetapi, semakin dekat dengan rinduku, justru gundah gulana semakin deras melanda perasaanku.

Tak terasa dari kejuahan awan hitam pekat terlihat mendekat, hembusan angin pun semakin kencang menyapu bersih debu jalanan yang berserakan. Sampah – sampah berterbangan mengiringi langkah angin pembawa rindu itu. Hembusan angin itu membuat seng – seng atap rumah berdendang beralunan, membentuk simponi yang khas. Jemuran pakaian yang bergelantungan disetiap lorong jalan sesegera diambil oleh si penghuninya. Memang tidak bisa dipungkiri hujan adalah utusan langit untuk bumi yang mengantarkan surat rindu tak tertahankan selama 6 bulan dalam 365 hari. Awan mendung sudah berada tepat diatas kepalaku, gemuruh petir berteriak dengan kencang. Sontak, hidungku mencium aroma yang khas. Rintikan air hujan mulai turun dari kerumunan awan hitam itu.
“Nda, ayo kita pulang” Aku menarik tangan kekasihku. Sontak, Ia pun merasa kebingungan ketika aku menarik tanggannya. Juli menahan tarikan tanganku dengan memasang wajah muram. “Ko, pulang?!” Tanyanya sambil cemberut, tapi tetap terlihat cantik. Melihat wajahnya yang mulai ketus, aku berhenti untuk menarik dan mengajaknya pulang. Sambil menatap kedua bola matanya aku sedikit memberi penjelasan. “Ia, memang suasana seperti ini yang kita nantikan, tapi lebih baik kita pulang saja, Nda.” Tampaknya penjelasan singkat itu malah membuat Ia semakin kebingungan dengan sikapku. ‘Aneh kamu si, A. Ini hujan sudah didepan mata. Tapi, ko malah ngajak pulang!”. Tidak salah apa yang diucapkan oleh kekasihku ini, aku memang merindukan datangnya hujan, aku sangant rindu, rindu, rindu sekali. Tapi, resah masih melanda perasaanku. “Masih aja belum ngerti kamu, Nda. Nanti dikosan, A Emi jelasin!”
Tampaknya, dengan berat hati Juli mengangkatkan badannya untuk sesegera berdiri dan berlari. Sambil berpegangan tangan aku dan kekasihku terus melangkah sekencang mungkin untuk menaiki angkutan umum yang berhenti agak jauh melewati halte. Hujan semakin mengguyur dengan deras, awan hitam serasa mengikuti jejak langkahku. Terkadang aku berpikir kenapa aku harus tergesa – gesa seperti ini? Kerinduan akan arsiran hujan yang aku nantikan kenapa harus Aku sia – siakan begitu saja. Terbantai oleh rasa resahku.
***
Dari dalam angkot, aku sedikit merenungi apa yang telah aku lakukan. Aku tahu, hujan terkadang membawa cinta. Dengan hujan orang – orang bisa membuat alunan musik yang merdu; membuat bait – bait puisi yang menawan. Membuat goresan tinta yang mengukir cerita. Tapi, aku pun sadar hujan terkadang membawa luka. Apa aku sendiri yang harus menyalahkan hujan, pada dasarnya hujan diciptakan untuk memberikan kesejukan, kemakmuran dan kedamaian. Apa karna ulahku sendiri dan manusia – manusia diluaran sana yang membuat hujan terkadang selalu membawa resah, tak hanya aku yang merasakan hal ini. Aku yakin orang – orang diluar sana ada yang mengalami hal yang serupa dengaku.
Tiba – tiba angkot yang aku tunggani berhenti, padahal tempat kos masih agak jauh. “Loh, ko berhenti?” Tanya Juli ke supir. Aku langsung mengajak kekasihku ini untuk langsung turun dari angkot. “Kita langsung turun aja, Nda. Lagian kosan udah deket.”Aku dan pacarku berjalan perlahan menghampiri kosan, genangan air menghambat langkah kakiku. Kulihat sekelilingku, orang – orang sibuk memindahkan isi rumahnya. Mengangkut sisa – sisa yang masih layak untuk terpakai. Anak – anak sedang asik bergelimpangan di atas genangan air. Remaja se usiaku sibuk membantu orang tuanya, ada juga yang menjadi ojeg dadakan. Mereka terlihat senang, menikmati kondisi seperti ini. Padahal aku yakin, mereka pun ingin menikmati hujan ini dengan nyaman, damai, dan tentram. Tidak seperti ini! Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menggugat ? Segala upaya konon katanya telah dilakukan, Apa hasilnya?
Ya, seperti layaknya orang – orang diluar sana. Aku ingin menikmati kerinduanku ini dengan syahdu. Ingin rasanya aku menyatu bersama hujan, menggoreskan arsiranku untuk membuat ukiran pelangi yang indah. Tapi, apalah daya! Kadang aku berpikir, ini tidak adil. Tapi aku sadar, aku tidak bisa hanya mengandalkan orang lain dan terus mengeluh. ini masalah bersama, tanggung jawab bersama, yang harus ditangani bersama pula. Aku yakin masih ada cara untuk mengatasi kerinduanku (hujan), bahkan untuk dirasakan oleh semua orang. Lalu aku membisikan sepatah kata ketelinga kekasihkuku. “Ini yang ingin, A Emi Jelasin ke kamu, Nda. Satu hal yang kini A Emi mengerti, yaitu bahwa hujan tak hanya rinai dan bau khas tanah. Juga tak hanya alam yang menjadi tumbuh subur karenanya. Termasuk, membuat rasa rindu berubah menjadi keresahan, seperti yang kita lihat dihadapan kita.”
No comments:
Write komentarTerima kasih sudah bertanya dan memberi komentar. Mohon maaf apabila ada pertanyaan yang tidak bisa kami jawab atau kurang memuaskan!